Mungkin saya harus terlahir seperti ini.
Mungkin ini sudah jalan hidup.
Dibenci.
Dianggap arogan.
Dikhianati.
Dikecewakan.
Dianggap aneh.
Dianggap gagal.
Dianggap tak bertanggug jawab.
Dianggap bukan apa-apa.
Disia-siakan.
Ditertawakan.
Diinjak-injak harga dirinya.
Dianggap tak berperasaan.
Dianggap egois.
Dianggap bukan manusia.
Sudah saya curahkan hidup saya untuk melakukan sesuatu
dengan benar.
Sampai saya takut untuk melakukan kesalahan.
Saya menghindar dari hal-hal itu.
Yang akan membuat saya salah.
Yang akan membuat orang lain berpikir saya salah.
Saya lakukan semuanya di jalan yang benar.
Benar menurut orang-orang.
Benar menurut norma-norma.
Benar menurut hati nurani.
Tapi, saya tetap salah.
Orang memandang saya tetap salah.
Katanya saya egois.
Selalu menomorsatukan masalah saya.
Saya tidak peka.
Melihat orang lain susah, saya toh tak merana.
Begitu katanya.
Jadi, saya harus apa?
Menangis membabi buta ketika melihat orang terjatuh?
Membunuh orang yang menyakiti teman dan keluarga saya?
Bunuh diri ketika saya dianggap gagal dan hanya menyusahkan
orang lain?
Saya jadi beban.
Beban buat keluarga.
Beban buat teman-teman.
Beban buat Tuhan.
Beban buat diri sendiri.
Rasanya gelap saja.
Gelap yang terasa.
Ketika tak ada lagi cahaya yang datang menerpa.
Ketika saya gelap sendiri, tanpa ada teman lagi di sini.
Saya si gagal.
Saya si pembawa susah.
Tak ada yang bisa saya perbuat.
Untuk buat mereka bangga.
Mereka yang pernah mengenal saya di dunia.
Tapi, apa ini akhir dari segala?